CIA angkat jempol untuk Indonesia melawan Komunisme

Tragedi G30S/PKI jadi pelajaran penting untuk CIA melawan komunis di Vietnam. CIA angkat jempol untuk Indonesia melawan Komunisme, hanya dengan sedikit bantuan saja dari Amerika.

Hal ini dimuat dalam tulisan ‘The Lesson of The September 30 Affair’ dari Center for the Study of Intellilgence, Volume 14 Issue 2, Musim Gugur 1970. Tulisan ini adalah jurnal internal CIA, dirahasiakan selama puluhan tahun dan baru dipublikasikan kepada umum tahun 1994 dan diposting di situs CIA pada 8 Mei 2007.

Kita bisa membacanya sendiri di situs resmi CIA bagian perpustakaan digital. Seperti dibaca detikcom, Minggu (1/10/2017). Penulisnya adalah Richard Cabot Howland, staf Kedubes AS yang bertugas di Jakarta tahun 1965-1966.

“Tidak ada seorang pun yang tahu soal kebenaran dari peristiwa Gerakan 30 September,” kata Howland setelah memaparkan jawaban soal dugaan keterlibatan China, Amerika dan jumlah korban di pihak PKI.

Howland meminta para analis CIA dan siapapun yang membaca tulisannya agar tidak gegabah dalam membuat strategi politik terhadap Indonesia dan Asia Tenggara. Teori domino yang dipikirkan Amerika, meleset di Indonesia. Sukarno menolak jatuh, Amerika diuntungkan ada Soeharto.

“Di Indonesia tahun 1965, kartu domino terakhir menolak jatuh. Rangkaian kejadian ini berubah dengan satu orang. Tanpa keberanian Soeharto membangkang ke Sukarno, ribuan aksi serupa tidak akan terjadi. PKI hancur di desa-desa Indonesia, disambung dengan ‘garis depan’ Amerika di Vietnam,” kata Howland.

G30S/PKI malah menurut Howland perlu jadi pelajaran untuk Amerika melakukan Vietnamisasi. Vietnamisasi atau Guam Doctrine adalah cara Amerika habis-habisan membantu Vietnam Selatan melawan komunis.

Kekuatan Amerika di Indonesia hanya hadir untuk melengkapi kemampuan orang Indonesia melawan komunis. Sedangkan di Vietnam, Amerika menghabiskan tentara dan uang untuk melawan komunis.

“Dibanding yang terjadi di Vietnam Selatan dan Indonesia setelah tahun 1965, sudah jelas bahwa kekuatan Amerika hanya melengkapi dan memperbesar kemampuan Indonesia. Ini adalah kualitas yang disebut orang Indonesia sebagai ‘ketahanan nasional’ yang dihasilkan dari kepemimpinan lokal, diperkuat dengan kerja sama regional. Tapi bukan dibuat atau diganti dengan gelontoran orang dan uang dari luar negeri,” kata Howland membandingkan dengan Perang Vietnam.

Sayang, dalam tulisan ini tidak dijabarkan bentuk bantuan apa yang diberikan Amerika. Itu wajar kenapa tidak perlu dijelaskan, karena yang membaca artikelnya adalah pihak internal CIA. Jadi mereka sudah pada tahu bantuan apa yang dimaksud.

“Sedikit yang percaya, ‘negara lembut’ di Asia Tenggara bisa selamat tanpa banyak bantuan Amerika dalam melawan komunisme,” tutup Howland mengomentari Indonesia dalam laporannya.

(fay/imk)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.