Di UGM, Pemuka Islam dan Kristen Mantan Milisi Nigeria Serukan Perdamaian Antar Agama

Dua pemuka agama Islam dan Kristen berpengaruh asal Nigeria berbagi pengalaman tentang rekonsiliasi dua agama untuk mendorong perdamaian. Hal itu setelah melewati konflik di negara mereka.

Muhammad Ashafa James Wuye menyampaikan pengamalamannya saat mengisi kuliah umum di Auditorium University Club, Universitas Gadjah Mada, Selasa 10 Oktober 2017  malam.

Ashafa seorang imam Islam dan James pastur agama Kristen. Di masa lalu, keduanya milisi dan terlibat kekerasan di Kaduna, kota penting di Nigeria. Namun setelah sadar dan berdamai, mereka kompak mendakwahkan perdamaian antaragama di Afrika dan dunia.

Dalam kuliah umum itu, mereka memperkenalkan pendekatan agama dan aksi-aksi nirkekerasan. Tujuannya untuk menginspirasi banyak kalangan di Indonesia, khususnya anak-anak muda dan pemuka agama mengajarkan nirkekerasan dan mengelola konflik.

Keduanya juga memfasilitasi lokakarya tiga hari di UGM pada 11-13 Oktober 2017 bertema “Pelembagaan Mediasi Antar-Iman”. Pesertanya adalah pegiat kemanusiaan dari seluruh Indonesia yang sudah diseleksi.

Ashafa menyinggung kondisi agama saat ini yang seolah justru menjadi bagian dari masalah kemanusiaan. Antara lain pengeboman di India pada 1995 oleh penganut Hindu, kekerasan atas Rohingya di Myanmar oleh pemuka Buddha, dan kasus ledakan gas di Jepang oleh orang Shinto.

Selain itu, teror oleh pengiman Bahai di Iran, kejahatan pemerintah Israel di bawah Yitzak Rabin yang memeluk Yudaisme, pelaku bom Oklahoma yang seorang Kristiani, dan kasus-kasus bomber bunuh diri dari Bali hingga Afghanistan dari umat Islam.

Namun, di sisi lain, Ashafa menyebut umat beragama juga tak kekurangan teladan. Mulai dari Mahatma Gandhi, Martin Luther King, Malcolm X, Desmon Tutu, Nelson Mandela, hingga sosok seperti Bob Marley dan Malala Yousefai. “Mereka semua menganut teologi welas asih (compassion),” ujar Ashafa.

Dalam Islam, ajaran tentang cinta kasih bersanding dengan ajaran inklusifitas dan keadilan sosial. Itu semua disebutkan berulang secara rutin dalam pembukaan khotbah Jumat, termasuk dalam Al Quran surat keempat ayat pertama. “Ajaran welas asih dan keadilan sosial melekat dalam ajaran Islam,” kata dia dengan gaya bicara yang tenang.

Hal itu tercermin pula dari sejarah masuknya agama Islam ke Afrika termasuk di Nigeria. Islam berkembang secara damai dengan agama lain melalui dialog.

Sementara James James memaparkan bahwa konflik dan kekerasan dilatari banyak faktor termasuk budaya, identitas ras, profesi, situasi lingkungan, kelompok kepentingan, dan pilihan politik. “Konflik itu buruk. Saya pun menyesali masa lalu saya,” ujar dia.

Namun semua agama, termasuk agama Kristen yang diyakininya, mengajarkam rasa sayang terhadap sesama manusia. “Jangan melakukan hal yang kamu tidak ingin orang lain lakukan terhadapmu. Jika kamu mau ke surga, sayangilah orang lain,” kata dia dengan gaya lugas, suara lantang, dan murah senyum.

Menurut dia, ajaran perdamaian merupakan ajaran semua paham di dunia. Kalaupun generasi saat ini memiliki rasa benci terhadap pihak lain, James yakin hal itu merupakan memori yang diwariskan dari generasi sebelum kita.

“Konflik itu bukan pertarunganmu. Memori itu ditransfer dari orang tua kita. Ikutilah jalan damai. Sebarkanlah virus-virus cinta dan persatuan.”

Ia mengakui setiap agama memiliki versi kebenarannya masing-masing, terutama keyakinan bahwa ajaran agamanya yang paling benar. Namun hal itu tak perlu dipertentangkan. “Jangan menyakiti. Berkomunikasilah tanpa kekerasan. Berkata-katalah dengan bahasa yang manis. Hindari komunikasi yang membawa kekerasan dan ujaran kebencian.”

James menekankan hal itu karena pengalaman konflik beda agama di negaranya muncul termasuk lantaran ucapan provokasi seperti menyebut pihak lain sebagai “kufur”. Namun, yang terpenting, konflik muncul karena ketidakadilan. “Tiada damai tanpa keadilan. Tak ada keadilan tanpa perdamaian.”

Pada awal 1990-an, kedua pemuka agama itu memimpin kelompok milisi Muslim dan Kristen yang terlibat dalam konflik. Bertahun-tahun sang imam dan pastor saling serang dan balas dendam. Suatu ketika, mereka memutuskan untuk berdamai, bekerjasama mendorong perdamaian.

James Wuye merupakan mantan pemimpin milisi pemuda Kristen di Kaduna, Nigeria, yang didera konflik antar-agama. Dia banyak terlibat dalam aksi kekerasan untuk membela keluarga dan kampungnya. Banyak kawannya yang tewas dan ia kehilangan tangannya.

Imam Ashafa seorang muslim taat yang dibesarkan di lingkungan tradisionalis. Konflik Kristen-Muslim di Nigeria pada 1992, yang menewaskan guru dan dua sepupunya mengubah hidupnya. Selama bertahun-tahun dia diliputi dendam dan kebencian. Untuk memutus kebencian perlu waktu yang lama. Mereka masih menyimpan kecurigaan terhadap satu sama lain.

Suatu ketika Ashafa mendengarkan ceramah tentang kisah Nabi Muhammad yang memaafkan penduduk Thaif yang mencederainya. Ceramah ini mengganggu benaknya, “Bagaimana bisa aku memaafkan orang yang membunuh guru dan saudaraku?,” kata dia. Setelah permenungan panjang, dia pun melepaskan dendamnya.

Perubahan hidup juga terjadi pada James. Suatu ketika ibu James dirawat di rumah sakit dan Ashafa menjenguknya. Semula ia curiga Ashafa merencanakan sesuatu yang jahat terhadapnya.

Tapi, kecurigaan itu kemudian runtuh. James juga teringat ucapan seorang kolega kepadanya, “Bagaimana mungkin kamu bisa mengajarkan ajaran Kristen dengan kebencian?” Ini membuat James meninggalkan kekerasan.

Mereka mendorong perdamaian di kota mereka, Nigeria hingga dunia. Mereka membangun Pusat Mediasi antar-Iman di Nigeria, meningkatkan wawasan dan keterampilan agamawan dalam mengelola konflik, serta memperlebar jaringan di seluruh dunia.

Tempo memberitakan, Pada 1995 mereka membentuk Lembaga Mediasi Antar-Iman (Interfaith Mediation Centre), yang menjadi unit strategis dalam melatih anak-anak muda sebagai agen perdamaian, memediasi konflik, dan membantu pengelolaan pemerintahan yang inklusif.

Hingga sekarang mereka menangani sekitar 200-an kasus konflik di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Mereka sering diundang untuk berbagi pengalaman mengusahakan perdamaian lintas-iman.

Usaha keras Imam Ashafa dan Pastor James mendorong perdamaian memperoleh penghargaan dari sejumlah kalangan, di antaranya Heroes of Peace Award (Tanenbaum Foundation, New York, 2000), Fondation Chirac Prize (Paris, 2009).

Ada juga Bremen Peace Award (Threshold Foundation, Bremen, 2011), dan Hessian Peace Price (Peace Research Institute, Frankfurt, 2013). Pengalaman mereka juga didokumentasikan dalam film The Imam & the Pastor (2006).

Imam Ashafa dan Pastor James dijadwalkan mengisi kuliah umum di Jakarta setelah rampung berkegiatan di Yogyakarta. Penyelenggara kegiatan ini adalah Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD), Yayasan Paramadina, Lembaga Antar-Iman Maluku (LAIM), Program Studi Agama dan Lintas-Budaya (CRCS), dan Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM. Acara ini juga mendapat dukungan Yayasan Tifa, Jakarta, dan Tanenbaum Center, New York.