Jenderal Gatot Nurmantyo Sebut Bioterorisme Ancaman Baru Ketahanan Nasional

JAKARTA – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memperingatkan akan potensi proxy war yang mengancam ketahanan nasional Indonesia. Salah satunya adalah dengan ancaman bioterorisme yang berasal dari upaya penyebaran virus-virus.

Baca: Rais ‘Aam PBNU; Wahabi, Salafy, ISIS Ngaku-Ngaku Ahlusunnah

Ancaman tersebut, kata Gatot, dilakukan semata untuk merebut sumber daya alam Indonesia. Bioterorisme ini salah satu merupakan cara berperang dengan negara lain tanpa angkat senjata.

“Indonesia adalah negara yang luar biasa suburnya maka orang akan berebut cari makan di Indonesia, itu yang berbahaya, bukan berbahaya karena apa, kekayaan kita itu berbahaya,” ujar Gatot di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis (9/11).

Gatot menjelaskan fenomena tersebut nyata ancamannya lantaran melihat kondisi bumi saat ini. Jumlah penduduk saat ini tercatat 7.5 miliar jiwa, itu dua kali lipat jumlah ideal bumi bisa ditinggali. Berdasarkan data British Petroleum, angka itu konsisten meningkat dan pada tahun 2043, diperkirakan cadangan minyak akan habis dengan total penduduk mencapai 12.1 miliar. Sehingga, negara di sekitar ekuator seperti Indonesia terancam menjadi target lantaran memiliki cadangan pangan dan energi yang besar.

Baca: Stop Sebut “Islam Itu Teroris”, Wahabi Teroris dan Bukan Islam

“Konsumsinya energinya 14.1 persen maka tahun 2043 akan habis dan jumlah penduduk 12.1 miliar. Bayangkan dan tempat yang masih aman kondisi cadangan minyak ada energi ada makanan ada di sekitar ekuator atau khatulistiwa karena bisa bercocok tanam sepanjang tahun antara lain indonesia,” jelas Gatot.

Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, TNI menggandeng IDI untuk kerjasama mencegah masalah kesehatan tersebut. Salah satunya adalah dengan menggelar Seminar Ketahanan Global dalam Perspektif Pertahanan Negara. Gatot yakin dokter juga aspek penting dalam ketahanan nasional.

Lantas Gatot berharap dibentuk semacam crisis center bersama beberapa institusi seperti Polri, Dinas Perhubungan, Kementerian Kesehatan dan Imigrasi. Hal itu sebagai pusat. pencegahan bioterorisme. Sehingga sebagai satuan yang mengidentifikasi dan melakukan pencegahan.

Baca: Radikalisme dan Terorisme Adalah Buah Haram Wahabisme

“Yang paling penting adalah bagaimana, apabila di satu tempat terindikasi ada virus yang berbahaya, itu dilokalisir, sehingga tidak menyebar, itu loh yang paling penting dulu,” pungkasnya. (SFA)

Sumber: Merdeka