Kemiskinan dan Ketidakadilan, Persemaian Ideologi Komunisme

Kemiskinan dan ketidakadilan menjadi tempat persemaian yang subur bagi tumbuhnya ideologi berbahaya seperti komunisme, gerakan radikal, dan sebagainya.

Sebab, masyarakat yang miskin dan merasa diperlakukan tidak adil secara ekonmi, akan mudah menerima ‘ajaran baru’ bersamaan dengan terpenuhinya kebutuhan hidup mereka.
Demikian diungkapkan Dosen Fakultas Hukum Uiniversias Jember (Unej), Adam Muhsi saat menjadi pembicara dalam Simposium Kebangsaan dan Refleksi Perjuangan Ulama Korban PKI di aula Fakultas Hukum Unej, Sabtu (30/9).
Menurut Adam, secara umum masyarakat yang hak-hak ekonominya merasa tidak dipenuhi oleh pemerintah, merupakan sasaran empuk para propagandis. Ideologi apapun bisa masuk dan berkembang dalam kondisi masyarakat yang seperti itu, apakah marxisme, leninisme, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), dan sebagainya.
“Karena mereka tahu kebutuhan masyarakat. Butuh beras dikasih beras. Butuh pelayanan kesehatan, diberi pelayanan kesehatan gratis. Jadi muara sesungguhnya adalah ketidakadilan, terutama ketidakadilan ekonomi. Namun ketika hak-hak ekonomi masyarakat sudah terpenuhi, maka peluang masuknya ideologi baru semakin sempit, bahkan tertutup sama sekali,” lanjutnya.
Sementara itu, Direktur Aswaja Center NU Jember, KH Abdul Haris menegaskan bahwa apapun bentuknya, komunisme tetap bertentangan dengan Islam dan Pancasila.
Penegasan tersebut disampaikan menjawab munculnya  isu bahwa komunisme adalah sekadar wadah untuk memperjuangkan keadilan, bukan ideologi.
Sehingga anggotanya bisa dari berbagai penganut agama, termasuk Muslim. Menurutnya, hal itu adalah upaya pengaburan arti untuk mengelabui masyarakat.
“Itu tidak benar, komunisme bukan sekadar wadah, tapi ideologi. Jangan sekali-kali dikasih pintu, nanti bisa bekembang,” urainya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)