Gerakan radikalisasi yang terjadi di Indonesia berjalan cukup massif meskipun salah satu Ormas yang terindikasi radikal sudah dibubarkan. Radikalisasi yang mengusung kepemimpinan khilafah tersebut sudah merambah kampus dan kalangan anak muda bukan isapan jempol belaka.
Hasil survei terakhir menunjukkan betapa gerakan radikalisasi itu sudah berhasil mempengaruhi pola pikir kalangan anak muda dalam jumlah yang cukup besar.
“Hasil penelitian terakhir sebanyak 23,4 persen anak muda setuju jihad untuk menegakkan khilafah,” kata Ketua PBNU Robikin Emhas saat memberikan pengarahan dalam acara Pertemuan Penulis Keislaman di Hotel Sahid, Surabaya, Sabtu (2/12).
Angka tersebut menurutnya cukup mengkhawatirkan, dan perlu diantisipasi seoptimal mungkin. Sebab, anak muda yang seharusnya punya visi dan misi membangun Indonesia dalam kebinekaan, namun nyatanya sudah terkontaminasi virus pemikiran radikal dengan misi utamanya khilafah.
“Kalau sekian persen anak muda setuju jihad, itu artinya mereka siap digerakkan untuk jihad, dan itu bahaya. Radikalisme adalah musuh bersama yang wajib kita berantas,” lanjutnya.
Ia berharap agar sosialisasi Islam moderat dapat diintensifkan untuk mengimbangi laju gerakan radikal. Katanya, Islam moderat yang menjadi ciri khas gerakan dakwah Nahdlatul Ulama mencukupkan ajaran Islam diamalkan dengan baik oleh masyarakat Indonesia tanpa perlu dibungkus oleh formalisasi kelembagaan.
“Islam jangan diarus utamakan sebagai aspirasi untuk formalisasi (kelembagaan). Sebab jika itu yang terjadi, maka terancam kebhinekaan Indonesia,” urainya. (Aryudi A Razaq/Mahbib)
sumber :NU Online