Menghadirkan Wajah Islam Yang Santun

Hari ini saya begitu berhasrat ingin menulis tentang suatu tema yang menurut sebagian orang, mungkin tidak begitu menarik dan klasik, yaitu tentang eksistensi Islam di Indonesia. Dimana, ia sebagai agama yang dianut oleh mayoritas penduduknya selalu ingin tampil ke permukaan sebagai agama yang problem solver bagi setiap porsoalan yang muncul di Indonesia.

Diakui ataupun tidak, yang jelas Islam merupakan agama yang relevan dalam setiap waktu dan tempat, meminjam bahasanya Fazlurrahman “shalihun likulli zaman wa makan” tanpa ada maksud menegasikan agama-agama yang lain, sehingga pantas kiranya ketika ia merasa mempunyai tanggung jawab terhadap setiap persoalan yang seringkali menjepit Indonesia hari ini.

Sebagaimana kita mafhum, bahwa Indonesia selalu saja mengalami distabilitas dalam setiap sektor, baik politik, ekonomi, budaya, bahka agama. Juga sebagian kebijakan pemerintah seringkali dianggap menguntungkan satu kelompok dan mempertontonkan ketidakadilan, oleh sebagian kelompok yang lain.

Dalam merespon setiap persoalan yang muncul, Islam selalu tampil menawarkan berbagai macam solusi, tentu dengan berbagai macam wajahnya yang beraneka ragam. Ada yang berwajah garang, santun, dingin dan wajah-wajah Islam lainnya yang tentu tidak bisa disebutkan semua disini.

Kategorisasi yang dirumuskan oleh Ulil Abshar Abdalla (Adnin Armas, Pengaruh Kristen-Orientalis Terhadap Islam Liberal, Jakarta: Gema Insani, 2003) dirasa cukup pas untuk menggambarkan aneka ragam wajah Islam Indonesia dewasa ini. Menurut dia ada tiga wajah Islam yang mewarnai Indonesia hari ini.

Baca Juga :   Sosial-Ekonomi Berbasiskan Budaya dan Pendidikan

Pertama, Islam gembar-gembor. Kelompok ini sangat vokal menyuarakan pentingnya penerapan hukum-hukum Islam dan memandang, bahwa teks-teks keagamaan sudah selesai, sehingga tugas utama orang Islam hanya melaksanakannya saja. Islam ini tamapaknya memang laris, terutama dalam situasi transisi politik seperti di Indonesia.

Kelompok ini kadang violent dan menolak untuk diajak berbicara oleh kelompok-kelompok lain di dalam Islam, apalagi di luar Islam. Mereka doyan menghakimi kelompok lain yang dianggap sesat dan menyimpang. Mereka memahami teks-teks keagamaan condong menggunakan penafsiran yang hurufiah dan tekstual.

Kedua, adalah kelompok silent syariah (meminjam bahasanya Kurzman). Kelompok ini membentuk proporsi terbesar dari keseluruhan umat Islam, tetapi mereka berwatak apolitis, dalam artian tidak begitu peduli dengan ancaman-ancaman yang datang dari kelompok Islam gembar-gembor diatas.

Mereka tidak suka dengan radikalisme (kekerasan), bahkan mereka mengecamnya. Dalam agama, mereka cenderung bersikap menerima dan akomodatif, dalam pengertian dapat menerima persesuaian-persesuaian dengan kultur lokal. Kelompok ini biasanya terdiri dari kalangan santri yang tidak berselera mengoar-ngoarkan Islam secara verbal dan membawa pentungan di jalanan.

Ketiga, Islam kepala dingin. Menurut Ulil, kelompok ini biasanya terdiri dari kelompok terdidik. Mereka juga tidak mempunyai ghiroh dan shahwat untuk berkoar-koar. Justru mereka lebih suka mencoba memikirkan kembali dalam-dalam pemaknaan Islam dalam konteks yang berbeda dan berubah-rubah.

Teks keagamaan dalam pandangan mereka dipandang sebagai sesuatu yang bersifat “prismatik”, artinya dapat membiaskan beragam penjelasan, keterangan serta penafsiran. Kelompok ini tidak mau memandang kebenaran dalam penafsiran teks sebagai sesuatu yang mungkin digagahi satu kelompok, sekaligus menafikan kelompok lain.

Baca Juga :   Ancaman Global ISIS di Indonesia

Islam dalam pandangan mereka adalah sesuatu yang belum, dan bahkan tidak pernah selesai. Sehingga perlu melakukan pembacaan ulang terhadap teks-teks keagamaan. Doktrin Al-Qur’an “alyauma akmaltu lakum dinakum” dimaknai oleh mereka bukan sebagai kesempurnaan yang aktual tetapi kesempurnaan yang potensial.

Setiap agama, dalam pandangan kelompok ini adalah sempurna pada dirinya (self-sufficient), tetapi kesempurnaan itu selalu bermakna potensial. Yakni, ada potensi-potensi kesempurnaan dalam dirinya yang harus diaktualkan oleh para pemeluknya sendiri.

Wahyu mereka pandang sebagai sesuatu yang progresif. Nabi Muhammad sebagai pribadi memang sudah wafat, tetapi Nabi sebagai fungsi tetap hidup dan berlaku sepanjang zaman. Dalam istilah mereka, setiap manusia adalah “Muhammad-Muhammad” kecil yang terus menerus berjuang melawan struktur jahiliah dalam berbagai ragam dan bentuknya.

Nah, mengingat kondisi Indonesia dewasa ini yang semakin sengkarut dan Islam gembar-gembor atau fundamentalisme Islam dengan getolnya menamplikan wajahnya ke hadapan publik serta mengklaim dirinya sebagai wajah Islam yang paling shahih dan solusi nomer wahid, maka penting kiranya bagi kita untuk mengahadirkan wajah Islam yang santun sebagai counter terhadap fundamentalisme Islam.

Islam yang santun dalam kategorisasi yang dilakukan Ulil Abshar adalah Islam silent syariah dan Islam kepala dingin. Islam yang mengedepankan kesantunan dalam menghadapi dan menyelesaikan setiap persoalan yang muncul, baik persolan keummatan ataupun kebangsaan.

Islam yang santun, menurut Zaprulkhan dalam bukunya “Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan,”  adalah Islam yang berwatak moderat, humanistik, inklusif, toleran terhadap puspa ragam pandangan, terbuka terhadap berbagai perbedaan, menebarkan aroma kedamaian, rahmat dan kasih sayang, bukan hanya kepada sesama muslim melainkan juga kepada non-muslim.

Baca Juga :   Belajar dari Muslim Cordoba

Islam dengan wajah yang santun ini, tentu tidak hanya dihadirkan dalam rangka meng-counter Islam radikal tetapi lebih dari itu, ia harus mampu kita kembangkan untuk menghadang laju perkembangan radikalisme Islam atau Islam gembar-gembor di negeri yang majemuk ini.

Diakui ataupun tidak, radikalisme Islam dan yang sejenis merupakan ancaman terbesar bangsa ini dalam menebar toleransi dan menyemai harmoni di negeri ini.  Radikalisme Islam bukan hanya wacana dan retorika, melainkan realitas yang terus berdialektika dengan dinamika yang terus berkembang dewasa ini.

Wajah Islam yang santun senantiasa harus terus kita hadirkan dalam setiap tatanan kehidupan negeri ini, baik dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Hingga pada akhirnya, wajah  Islam yang santun ini menjadi paradigma berpikir dan bahkan menjadi worldview bagi umat Islam yang mayoritas ini.

Dengan begitu, negeri ideal yang dicita-citakan bersama dan disebut oleh Al-Qur’an “baldatun toyyibatun wa Rabbun ghafur” akan dengan mudah bisa kita wujudkan.  Yaitu negeri yang aman, tentram dan damai tanpa kekerasan-kekerasan. Bagaimana menurut anda?