Tausiyah Menyejukkan Al Habib Umar bin Hafidz untuk NKRI

Dia datang tepat waktu. Saat bangsa Indonesia tengah ‘berdebat’ soal Islam dan NKRI, Islam dan toleransi. Di saat ulama-ulama di republik ini, menikmati caci maki. Tausiyahnya begitu menyejukkan, bagaikan air memadamkan kobaran api. Dialah Al Habib Umar bin Hafizd, ulama besar masa kini yang hafal 100.000 hadits beserta sanad dan matannya.

“Islam itu menyatukan, bukan memecah belah umat. Mengajak kebaikan, harus dengan kebaikan, mencegah kemunkaran pun harus dengan kebaikan. Kerjakan amar ma’ruf nahi munkar dengan ma’ruf,” demikian di antara tausiyah guru umat Islam dunia, Al Habib Umar bin Hafizd dari Yaman dalam acara Jalsatuddu’at Pertama di JIC (Jakarta Islamic Center) Jakarta Utara, Ahad malam (15/10/2017).

Pesan penting lainnya, adalah cara berdakwah. Allah swt telah menyebutkan tentang perkara dakwah di jalanNya dengan metode dakwah yang diterima oleh Allah swt. dan bermanfaat bagi masyarakat. “Penuhi hati dengan pengagungan kepada Allah swt. hingga ia takut dan berharap hanya kepada Allah semata,” tegasnya.

Al Habib Umar bin Hafizd kemudian menegaskan, bahwa, sesungguhnya Allah swt telah mengatur slogan ini pada lidah para Rasul seperti yang tercantum dalam Alquran: “Dan aku sekali-kali tidak meminta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (QS. asy-Syu’ara ayat 109).

Allah memuji orang-orang yang menyampaikan risalahNya dengan takut hanya kepada Allah dan menjadikan Allah sebaik-baik perlindungan. “(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepadaNya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai perlindungan.” (QS. al-Ahzab ayat 39).

Sesungguhnya yang patut menyandang dakwah di jalan Allah adalah orang yang hatinya berharap dan takut hanya kepada Allah. Dan selama di dalam hatinya masih ada setitik harapan kepada selain Allah, maka, pasti dia tidak akan selamat dari kekacauan dalam dakwahnya. Baik disadari maupun tanpa disadari ada kepentingan demi sesuatu yang diharapkan selain Allah atau demi kekhawatiran selain khawatir kepada Allah.

Al Habib Umar bin Hafizd kemudian mensitir wahyu Allah swt. yang membimbing kita dalam berdakwah yang benar, Allah memerintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun: “Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sampaikan dakwahKu, dan ucapkan kepada dia dengan penyampaian yang lembut.” (QS. Thaha ayat 43-44).

Sesungguhnya akal-akal yang berpikiran bahwa ‘sesungguhnya engkau belum melaksanakan nahi munkar apabila engkau tidak berucap dengan kata-kata yang kasar dan keras”, maka, ucapan dan pemikiran itu bertentangan dengan wahyu Allah.

Wahyu Allah tentang metode dakwah ini, bisa dilihat saat Fir’aun berbuat hal-hal yang jahat dan melewati batas, seharusnya setelah kalimat ini ‘kasari dia atau bunuh dia atau habisi dia’, bukan demikian. Melainkan dengan ucapan dan penyampaian yang lembut.

Tak kalah menariknya, pesan Al Habib Umar bin Hafizd tentang gerakan amar ma’ruf nahi munkar. Sesungguhnya, kata Al Habib Umar, perkara amar ma’ruf nahi munkar adalah kewajiban yang penting dan agung sampai hari kiamat.

“Tapi bagaimana metode dan caranya? Yakni amar ma’ruf dengan cara yang ma’ruf, dan nahi munkar pun dengan cara yang ma’ruf. Apabila engkau memerintahkan orang lain untuk berbuat hal yang ma’ruf (baik) maka perintahkan dengan cara yang ma’ruf. Dan apabila engkau mencegah orang lain dari perbuatan yang mungkar, maka, cegahlah mereka dengan cara yang ma’ruf, bukan mencegah kemungkaran dengan cara yang mungkar,” tegasnya.

Ia kemudian menyebut beberapa ulama salaf, ketika menyaksikan bagaimana masyarakat menggosipkan Hajjaj yang banyak membunuh dan mendzalimi ummat Islam, dengan cara menggosip (ghibah) di belakang dan kenyataannya tidak menghasilkan apa-apa.

Maka para ulama salaf berkata, “Sesungguhnya Allah akan menuntut apa yang dilakukan Hajjaj, sebagaimana Allah juga akan menuntut orang-orang yang menggosipkan dan mencaci maki Hajjaj atas kedzalimannya,” kutipnya.

Dulu di masa Hajjaj, ada sekelompok sahabat Rasulullah saw, anak-didik Rasulullah saw, mereka tidak memahami makna mencegah dari kemungkaran dengan memaki Hajjaj, atau mengeluarkan kata-kata yang tidak baik kepada Hajjaj, atau memprovokasi massa untuk melakukan revolusi menggulingkan Hajjaj. Bukan itu yang mereka pahami dari makna ‘Nahi Munkar’ tersebut.

Seperti sahabat Abdullah bin Umar ra. dan para sahabat lain berpendirian demikian, mereka tidak ada satupun yang mendukung Hajjaj atas kedzaliman dan kemunkaran yang dia lakukan dan mereka juga tidak mencaci maki Hajjaj.

“Siapa gerangan pemimpin dari semua manusia yang melakukan praktik amar ma’ruf nahi munkar? Siapa pula orang yang paling mengenal takut kepada Allah? Dan siapakah yang paling mengenal kecemburuan di dalam agama Allah? Sesungguhnya dialah Nabi Muhammad saw.”

Lalu. “Sebutkan, cacian apa yang pernah keluar dari lidah beliau, Rasulullah saw. yang ditujukan kepada orang-orang musyrikin Makkah yang dahulu pernah mengganggunya? Cacian apa yang pernah keluar dari lidah Rasulullah terhadap orang-orang munafik Madinah yang dahulu hidup di Madinah bersama Nabi? Pernahkah kita mendengar cacian Nabi Muhammad saw. terhadap orang-orang Yahudi yang sering menggugurkan perjanjian dan kesepakatan bersama terhadap umat Islam?” begitu wejangan yang disampaikan Al Habib Umar.

Sesungguhnya Nabi saw tidak menyibukkan diri dari hal demikian dan Nabi saw pun tidak berhenti untuk mengajak mereka (ke jalan Allah swt.). Dan Nabi Muhammad saw mendirikan jihad terhadap orang-orang tersebut tetapi dengan aturan dan koridor kenabian yang diatur di dalam sunnahnya. Ketika ada satu kelompok Yahudi yang berkhianat atas suatu janji, maka yang diusir hanya satu kelompok Yahudi itu, bukan ditimpakan atas seluruh kaum Yahudi.

“Dan kita semua mencintai amar ma’ruf nahi munkar dan jihad di jalan Allah, kita hidup atas hal tersebut dan rela mati untuknya, tetapi dengan cara dan metode Rasulullah saw, Khulafaur Rasyidin dan Salafus Shalih,” tegasnya.

Pernah dikatakan kepada Nabi Muhammad, “Ya Rasulullah, sumpahi mereka kaum musyrikin yang menyerang kita sebab mereka telah membunuh lebih dari 70 orang, juga telah membelah perut salah seorang sahabat Rasulullah, melukai dan menumpahkan banyak darah serta melakukan banyak kejahatan.” Apa jawab Nabi saw?

Nabi saw malah menjawab: “Sesungguhnya aku tidak diutus menjadi tukang laknat, akan tetapi aku diutus untuk mengajak kebaikan dan rahmat. Ya Allah berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka belum tahu,” begitu Al Habib Umar menirukan jawaban Nabi Muhammad saw.

Ketika umat Islam baru pulang dari peperangan, ada orang-orang munafik memprovokasi umat Islam dengan mengatakan, “Kalau betul Nabi kalian ini Nabi yang benar, maka, kalian tidak akan kalah perang, kalian pasti akan menang.” Saat itu, Sayyidina Umar bin Khattab ra yang mendengar ucapan tersebut menjadi geram, lalu menghadap Rasulullah saw meminta ijin membunuh mereka untuk menyelesaikan masalah ini.

Apa jawaban Nabi saw. “Wahai Umar sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) mengucap La ilaha illallah.” Sayyidina Umar bin Khattab ra. lalu berkata, “Sesungguhnya lidah mereka mengucap La ilaha illallah, tetapi hati mereka tidak.” Maka Nabi pun bersabda, “Saya tidak diperintahkan untuk memeriksa hati manusia.”

Adapun kepada orang-orang Yahudi di mana Sayyidina Umar meminta ijin membunuh mereka, Nabi Saw. berkata, “Saya punya perjanjian dengan mereka, bagaimana saya akan menggugurkannya dengan membunuhi mereka? Selama mereka mengucapkan omongan dan provokasi secara diam-diam dan mereka tidak membatalkan perjanjian ini, maka saya tidak punya jalan untuk membatalkan perjanjian ini.”

Masih dari kisah yang disampaikan Al Habib Umar, di masa tersebut ada seorang anak kecil dari keturunan Yahudi, yang mana anak kecil ini memiliki keistimewaan bisa mengetahui isi hati orang-orang dan hal yang ghaib dan membicarakannya di tengah-tengah masyarakat.

Ibnu Shayyad namanya, dan dikenal dengan Dajjal. Sayyidina Umar meminta ijin membunuhnya daripada membuat fitnah. Tapi Nabi menjawab, “Kalau benar Ibn Shayyad itu Dajjal, maka kau tidak akan mampu membunuhnya. Sebab sudah kusabdakan di akhir jaman nanti akan datang Dajjal yang akan melakukan hal ini dan hal itu. Kalau engkau melakukan itu, berarti sabdaku tidak benar dan bohong. Kalau memang ternyata dia Dajjal, maka tidak ada kebaikan bagimu ketika membunuh anak ini.”

Jadi? Dalam arti sesungguhnya, kemarahan dan kecumburan itu seharusnya hanya untuk Allah, apabila dijadikan bukan karena Allah, maka, justru akan menarik orang-orang tersebut di luar jalan Allah swt. “Maka sesungguhnya tempat kemarahan, kecemburuan dan ketegasan karena Allah Swt. terhadap orang kafir tersebut, dengan cara tidak membiarkan kemunkaran-kemunkaran tersebut menyebar pada diri kita, keluarga kita dan dari dalam rumah kita.”

“Bukan seseorang yang mengklaim dia tegas dan marah karena Allah, tetapi dia bersalaman dengan wanita yang bukan mahramnya, kemudian melakukan hal-hal yang tidak sesuai syariat Allah, terbukanya aurat bagi kaum wanitanya. Ketika melihat ada orang-orang yang di luar sana melakukan kemunkaran, dia marah, dia bangkit, kemarahan dan emosinya siap melakukan kekerasan. Sedangkan kesalahan yang ada pada keluarganya dia hanya diam seribu bahasa. Bukan itu yang dimaksud marah karena Allah swt,” demikian di antara tausiyah Al Habib Umar yang sangat menyejukkan hati umat Islam Indonesia. Semoga dakwah di negeri ini semakin ramah, sebagaimana misi Islam yang rahmatan lilalamin.

(dutaco/suaraislam)