Waspadalah! 23,4% Mahasiswa dan Pelajar Terpapar Paham Radikal

Survei yang dilakukan Mata Air Fondation dan Alvara Research Center menunjukkan bahwa 23,4% mahasiswa dan 23,3% pelajar SMA telah terpapar dengan paham radikal. Soalnya, mereka setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah.

“Penetrasi ajaran intoleran sudah masuk di kalangan pelajar, kemudian diperkuat saat menjadi mahasiswa melalui kajian-kajian di kampus,” ujar CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali saat memaparkan hasil survei di Jakarta, Selasa (31/10).

Survei Alvara secara khusus dilakukan untuk mengukur sikap dan pandangan keagamaan kalangan pelajar SMA dan mahasiswa di Indonesia. Survei dilakukan terhadap 1.800 mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia dan 2.400 pelajar SMAN unggulan di Pulau Jawa serta kota-kota besar di Indonesia.

Pelajar dan mahasiswa yang disurvei menggeluti bidang studi Pertahanan, keamanan, keuangan, energi, pangan, telekomunikasi, kesehatan, pendidikan, dan manufaktur. Riset menggunakan pendekatan kuantitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka pada kurun waktu 1 September hingga 5 Oktober 2017.

Semua responden beragama Islam dengan populasi seimbang antara pria dan wanita. “Pelajar SMA dan mahasiswa adalah masa pencarian jati diri yang rentan terhadap apa pun, termasuk ajaran intoleransi dan radikalisme. Pelajar dan mahasiswa nantinya akan menjadi tenaga kerja di sektor-sektor strategis negara. Ini harus menjadi perhatian,” jelas Hasanuddin.

Dikatakan, dari survei itu diketahui bahwa ada 23,5% mahasiswa dan 16,3% pelajar menyatakan bahwa negara Islam perlu diperjuangkan untuk penerapan agama secara kaffah. “Lalu, ketika ditanya tentang peraturan daerah (perda) syariah. Ada 21,9% pelajar dan 19,6% mahasiswa setuju perda syariah untuk mengakomodasi penganut agama mayoritas,” ujar Hasanuddin.

Dikatakan pula, mayoritas pelajar dan mahasiswa memang setuju dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bentuk negara dibandingkan khilafah. Namun, ujarnya, ada 17,8% mahasiswa dan 18,3% pelajar yang memilih khilafah dibandingkan NKRI.

Demikian juga tentang ideologi Pancasila, di mana ada 18,6% pelajar memilih ideologi Islam sebagai ideologi bernegara dibandingkan Pancasila. Sementara, dikalangan mahasiswa sebanyak 16,8% memilih ideologi Islam dibandingkan Pancasila sebagai ideologi bernegara.

“Soal pemimpin nonmuslim, ada 29,5% pelajar dan 29,7% menyatakan tidak akan mendukung pemimpin nonmuslim. Menurut saya, ini angkanya luar biasa dan menjadi warning yang perlu kita tangkap,” jelas Hasanuddin.

Dia menegaskan, temuan survei itu patut dijadikan sebagai alarm bagi segenap komponen bangsa, khususnya bagi pemerintah dan ormas-ormas Islam moderat. Pemerintah dan masyarakat dituntut untuk bisa mengemas penyampaian ajaran-ajaran agama Islam moderat agar sesuai dengan gaya anak muda saat ini.

(beritasatu/suaraislam)