Zikir untuk Bangsa

Kehadiran Habib Umar al Hafidz di Mapolda Metro Jaya pada sore hari ini (17/10) menjadi sarana silaturrahim antara ulama dengan kepolisian sekaligus zikir untuk keselamatan bangsa.
Ada beberapa hikmah yang dapat dipetik dari acara tersebut, diantaranya:
1. Zikir itu mengingat Allah. Zikir berjemaah dapat menjadi sarana untuk menyatukan asa dan rasa bahwa masalah kebangsaan harus senantiasa mengingat Allah SWT, memohon bimbingan dan perlindungan-Nya. Sebab zikir adalah sarana untuk menciptakan ketenangan dan ketentraman. Penting meluruskan niat zikir berjemaah, baik di masjid atau luar adalah semata-mata untuk meng-esakan Allah SWT bukan untuk kepentingan politik kekuasaan.
2. Kita semua harus mendoakan negeri ini agar tetap utuh dan bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab ancaman dari luar dan dari dalam selalu ada dan nyata merongrong untuk merobek persatuan dan kesatuan.
3. Silaturrahim antara ulama dengan kepolisian adalah bertemunya penyeru kebajikan (amar ma’ruf) dengan penghalang kemunkaran (nahi mungkar). Sebab tugas ulama adalah menjelaskan dan penyeru kebaikan sedangkan Polisi adalah penghalang terhadap kemaksiatan. Ulama penyeru ma’ruf dan nahi munkar dengan “lisan” nasihatnya maka polisi menegakkan dengan “tangan” kewenangannya. Apabila penyeru makruf dan petugas nahi munkar bertemu, maka Republik Indonesia ini akan menjadi Republik yang aman, damai dan sentosa dalam Ridhai Allah. (BALDATUN THAYYIBATUN WA RABBUN GHAFUR).
4. Menghadapi tahun-tahun politik dan di tengah arus dunia maya dengan medsos maka silaturrahim langsung menjadi sarana perekat antar elemen anak bangsa untuk menjaga NKRI
5. Berharap dan berdoa semoga dinamika politik dan sosial adalah bagian dari proses pencerdasan. Berharap semua berfikir untuk kemajuan bangsa. meletakkan kepentingan negara melebihi dari kepentingan kelompok apalagi perorangan.

M. Cholil Nafis

Ketua Komisi Dakwah MUI Pusat

sumber ;https://kumparan.com